Tag: Nonfiksi

  • Steven Gerrard: Kisah Saya

    Steven Gerrard: Kisah Saya

    Akankah memenangkan dua atau tiga piala bersama Liverpool lebih berarti bagi saya dibandingkan dua atau bahkan tiga kali lipat dari jumlah itu, tapi saya bermain untuk Chelsea? Sebagai satu-satunya pemain yang pernah mencetak gol di final Piala FA, Piala Liga, Piala UEFA, dan Liga Champions, Steven Gerrard merupakan sosok inspiratif bagi penggemar maupun sesama pemain sepak bola. Kesetiaannya kepada Liverpool membuat namanya dikenang tak hanya sebagai salah satu sosok hebat di Anfield, tapi juga salah satu pesepak bola terbaik yang pernah Inggris miliki. Kisah Saya mengungkap seluruh karier sepak bola Gerrard lewat pertandingan-pertandingan pentingnya bersama Liverpool. Gerrard membahas 114 penampilannya bersama Inggris, termasuk peristiwa di balik layar Piala Dunia dan Euro, serta menuliskan kisah tentang kawan maupun lawan, tentang manajer maupun wasit. Gerrard juga berbagi kisah-kisah personal yang jarang orang ketahui. Penuh emosi sekaligus jujur, Kisah Saya adalah kata-kata terakhir sang legenda yang memilih untuk setia pada satu klub sepanjang kariernya.

    Penulis: Steven Gerrard & Donald Mcrae
    Editor: Anida
    Kategori: Nonfiksi, Humaniora, Biografi, Olahraga
    Terbit: 6 Februari 2017
    Harga: Rp 100.000
    Tebal: 504 halaman
    Ukuran: 150 mm x 230 mm
    Format: Softcover
    ISBN: 9786024241940
    ID KPG: 591601288
    Bahasa: Indonesia
    Usia: 15+
    Penerbit: KPG

  • I Think Therefore I Play

    I Think Therefore I Play

    Sore itu, hari Minggu, 9 Juli 2006, di Berlin, saya menghabiskan waktu dengan tidur dan bermain PlayStation. Malamnya, saya keluar dan menjuarai Piala Dunia. Sebagai pesepak bola, Andrea Pirlo telah membuktikan diri di berbagai ajang, termasuk Piala Dunia dan Liga Champions. Media telah memberitakan dirinya dan para penggemar membahas berbagai rumor tentangnya. Kali ini giliran Pirlo angkat bicara. Pirlo tidak hanya menuturkan kisah tentang dirinya. Ada nama-nama besar lain di sini—Lippi, Conte, Guardiola, Ibrahimovic, Maldini, Nesta, Balotelli, Berlusconi, sampai Ronaldo (yang asli)—dan tidak melulu soal pertandingan atau gelar juara. Pirlo bercerita tentang sahabat sekaligus seteru abadinya dalam game di PlayStation. Tentang makanan favorit Filippo Inzaghi dan kebiasaan-kebiasaan aneh pemain lain. Tentang rahasia tendangan bebasnya. Tentang asal usul keluarganya. Ditulis saat ia masih berkostum bianconero, I Think Therefore I Play mengajak kita mengintip isi kepala Andrea Pirlo dan menyelami lebih dalam pemikiran-pemikiran salah satu gelandang terbaik sepanjang masa ini.

    Penulis: Andrea Pirlo, Alessandro Alciato
    Editor: Anida
    Kategori: Nonfiksi, Humaniora, Biografi, Olahraga
    Terbit: 18 Juli 2016
    Harga: Rp 70.000
    Tebal: 184 halaman
    Ukuran: 150 mm x 230 mm
    Format: Softcover
    ISBN: 9786024240684
    ID KPG: 591601205
    Bahasa: Indonesia
    Usia: 15+
    Penerbit: KPG

  • Seri Tempo: Wahid Hasyim, untuk Republik dari Tebuireng

    Seri Tempo: Wahid Hasyim, untuk Republik dari Tebuireng

    Kiai Wahid, demikian dia biasa disapa, merupakan tokoh pembaru pesantren dan pendidikan Islam negeri ini. Sepulang menyantri di sejumlah pesantren di Jawa Timur dan belajar di Negeri Arab, ayah Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid ini memasukkan pendidikan umum dalam sistem pendidikan Pesantren Tebuireng. Kepiawaiannya berorganisasi dan berpolitik membuat Wahid Hasyim dipilih sebagai anggota Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia. Ia juga memimpin Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi)—organisasi yang ia dirikan bersama Mohammad Natsir dan beberapa tokoh Islam lain pada 1945. Sikapnya layak menjadi teladan hingga hari ini: teguh memperjuangkan kepentingan umat Islam, tapi berkompromi ketika Bhinneka Tunggal Ika disepakati jadi asas negara. Kisah Wahid Hasyim adalah satu cerita tentang “Tokoh Islam di Awal Kemerdekaan” yang diangkat dari liputan khusus Majalah Berita Mingguan Tempo April 2011. Serial ini menampilkan wajah beragam Islam Indonesia: dari dulu hingga kini selalu ada orang yang mengedepankan jalan moderat dan demokratis, tapi ada pula—karena kekecewaan—menyokong radikalisme dan kekerasan.

    Penulis: Redaksi Tempo
    Editor: Galang
    Kategori: Nonfiksi, Humaniora, Sejarah, Biografi, Seri Tempo
    Terbit: 15 Februari 2016
    Harga: Rp60.000
    Tebal: 144 halaman
    Ukuran: 160 mm x 230 mm
    Sampul: Softcover
    ISBN: 9789799112316
    ID KPG: 591601123
    Bahasa: Indonesia
    Usia: 15+
    Penerbit: KPG

  • Seri Tempo: Soedirman, Seorang Panglima, Seorang Martir

    Seri Tempo: Soedirman, Seorang Panglima, Seorang Martir

    “Yang sakit itu Soedirman, tapi Panglima Besar tidak pernah sakit.” Pagi itu, 19 Desember 1948, Panglima Besar bangkit dan memutuskan memimpin pasukan keluar dari Yogyakarta, mengonsolidasikan tentara, dan mempertahankan Republik dengan bergerilya. Panglima Besar sudah terikat sumpah: haram menyerah bagi tentara. Karena ikrar inilah Soedirman menolak bujukan Sukarno untuk berdiam di Yogyakarta. Dengan separuh paru-paru, ia memimpin gerilya. Selama delapan bulan, dengan ditandu, ia keluar-masuk hutan. Di medan gerilya, Panglima Besar dipercaya bisa bersembunyi dari kejaran Belanda. Mampu menyembuhkan orang sakit dan—konon—menjatuhkan pesawat terbang dengan meniupkan bubuk merica. Aktivis Hizbul Wathan, mantan guru dan peletak dasar kultur TNI yang ironisnya dulu sempat berkata, “Saya cacat, tak layak masuk tentara.” Dialah Soedirman: panglima, martir. Kisah tentang Soedirman adalah jilid kedua seri “Tokoh Militer” yang diangkat dari liputan khusus Majalah Berita Mingguan Tempo November 2012. Serial ini mengupas, menguak, dan membongkar mitos dan berbagai sisi kehidupan para perwira militer yang dinilai mengubah sejarah.”

    Penulis: Redaksi Tempo
    Editor: Galang
    Kategori: Nonfiksi, Biografi, Seri Tempo
    Terbit: 25 April 2017, 22 November 2023
    Harga: Rp75.000
    Tebal: 190 halaman
    Ukuran: 160 mm x 230 mm
    Sampul: Softcover
    ISBN: 9786024243500
    ID KPG: 591701345
    Bahasa: Indonesia
    Usia: 15+
    Penerbit: KPG

  • Seri Tempo: Gelap-Terang Hidup Kartini

    Seri Tempo: Gelap-Terang Hidup Kartini

    Kartini adalah kontradiksi: Ia cerdas sekaligus lemah hati. Ia menyerap ide masyarakat Barat tapi tak takluk pada adat. Ia feminis yang dicurigai. Ia dianggap terkooptasi oleh ide-ide kolonial. Tapi satu yang tak bisa dilupakan: Ia inspirasi bagi gerakan nasionalisme di Tanah Air. Kartini menyuarakan perubahan. Ia membawa perjuangan perempuan pada fase yang baru, tidak sekadar menuntut pengakuan tapi juga mengklaim keberadaannya dalam kehidupan bangsa. Hidup Kartini begitu singkat, 25 tahun, namun gagasan-gagasan progresifnya tak lekang oleh zaman. Tulisannya menggambarkan perjuangan panjang di “ruang dalam” yang belum selesai sekalipun kemerdekaan di “ruang luar” sudah tercapai. Kisah tentang Kartini adalah jilid perdana seri “Perempuan-perempuan Perkasa” yang diangkat dari liputan khusus Majalah Berita Mingguan Tempo April 2013. Serial ini mengangkat, mengupas, dan mengisahkan sisi lain kehidupan tokoh-tokoh perempuan yang memiliki peran besar pada setiap zamannya.

    Penulis: Redaksi Tempo
    Editor: Galang Aji Putro
    Kategori: Nonfiksi, Humaniora, Sejarah, Biografi, Seri Tempo
    Terbit: 11 April 2016
    Harga: Rp75.000
    Tebal: 160 halaman
    Ukuran: 160 mm x 230 mm
    Sampul: Softcover
    ISBN: 9786026208309
    ID KPG: 591601161
    Bahasa: Indonesia
    Usia: 15+
    Penerbit: KPG

  • Fish Eye

    Fish Eye

    Mengapa brand lokal sulit berkembang di Indonesia? Mengapa di negeri subur loh jinawi pertaniannya terbelakang? Mengapa kita kerap gagap menangkap sinyal perubahan? Bagaimana dunia bisnis sebaiknya menganggapi berbagai persoalan masyarakat? Seberapa jauh perkembangan teknologi informasi bisa membantu? Di mana peran utama industri kreatif dan generasi muda? Sederet pertanyaan di atas terus-menerus mengusik Handoko Hendroyono, praktisi periklanan dan pemasaran yang dikenal sebagai creative storyteller dan content creator. Sebagian buah pikirannya yang ditulis tiga tahun belakangan dan tersebar di berbagai blog dan social media kini dirangkum dalam buku ini. Dilengkapi banyak contoh kasus, Fish Eye menawarkan cara pandang baru dalam melihat peluang dan masalah di dunia bisnis, kreativitas, dan kemasyarakatan.

    Penulis: Handoko Hendroyono
    Editor: Pax
    Kategori: Nonfiksi, Pengembangan diri
    Terbit: 4 November 2019
    Harga: Rp 65.000
    Tebal: 216 halaman
    Ukuran: 140 mm x 210 mm
    Sampul: Softcover
    ISBN: 9786024812775
    ID KPG: 591901716
    Bahasa: Indonesia
    Usia: 15+
    Penerbit: POP

  • Kelana

    Kelana

    “Di dalam hutan Siberia, di desa kecil di Laos, di keramaian Barcelona, ketika saya sedang dalam kesulitan, selalu ada tangan terulur memberikan bantuan. Maka perjalanan ini adalah perjalanan merayakan perbedaan. Kita semua berbeda, tapi bersatu dalam kemanusiaan.” Kelana adalah catatan seorang perempuan yang melakukan perjalanan sendirian dari Indonesia ke Afrika, melewati jarak lebih dari separuh lingkar bumi. Melintasi kilometer demi kilometer ketakutan, petualangan, dan ketidakpastian, dia mencatat kebaikan-kebaikan yang muncul di tempat paling terpencil sekalipun. “Famega membawa subgenre

    Penulis: an perjalanan ke tahap yang lebih tinggi: ia memilih untuk berdekatan dengan bumi dan air.” —Leila S. Chudori
    Penulis: Famega Syavira Putri
    Editor: Anida
    Kategori: Nonfiksi, Memoar
    Terbit: 23 Juli 2018
    Harga: Rp99.000
    Tebal: 272 halaman
    Ukuran: 115 mm x 175 mm
    Sampul: Softcover
    ISBN: 9786024248918
    ID KPG: 591801532
    Bahasa: Indonesia
    Usia: 15+
    Penerbit: Comma Books

  • Seri Tempo: Bung Tomo, Soerabaja di Tahun 45

    Seri Tempo: Bung Tomo, Soerabaja di Tahun 45

    Sutomo atau Bung Tomo ialah tokoh “pemberontak” termasyhur. Pidato-pidatonya—yang dibuka dan ditutup dengan lagu “Tiger Shark” karya Peter Hodgkinson asal Inggris—selalu meneriakkan “Allahu Akbar”. Sosoknya terekam kuat dalam potret diri yang mengacungkan telunjuk dengan tatapan mata tajam. Lewat Radio Pemberontakan, suara Bung Tomo berapi-api membakar semangat pejuang Republik Indonesia terhadap tentara Sekutu. Kehadirannya jadi simbol perlawanan dalam pertempuran 10 November 1945. Hingga kini, namanya selalu dikaitkan dengan Hari Pahlawan. Bibit kepemimpinan Bung Tomo disemai dari keaktifannya dalam organisasi Indonesia Muda dan Kepanduan Bangsa Indonesia. Pada masa penjajahan Jepang, dia menjadi wartawan kantor berita Domei. Sutomo kerap mengkritik Orde Baru, terutama soal korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan. Selepas masa perjuangan, peran politiknya meredup. Namun, dia masih membela kepentingan buruh dan pedagang kecil yang terancam hak-haknya di pengadilan. Naik haji dengan menggadaikan lukisan, perjalanan hidup Bung Tomo berakhir di Arafah.

    Penulis: Redaksi Tempo
    Editor: Galang
    Kategori: Nonfiksi, Humaniora, Sejarah, Biografi, Seri Tempo
    Terbit: 18 Januari 2016
    Harga: Rp60.000
    Tebal: 164 halaman
    Ukuran: 160 mm x 230 mm
    Sampul: Softcover
    ISBN: 9789799109934
    ID KPG: 591601104
    Bahasa: Indonesia
    Usia: 15+
    Penerbit: KPG

  • Seri Tempo: Gie dan Surat-surat yang Tersembunyi

    Seri Tempo: Gie dan Surat-surat yang Tersembunyi

    Soe Hok-gie adalah seorang pemikir yang kritis, idealis, dan pemberontak. Catatan hariannya—yang dibukukan dalam Catatan Seorang Demonstran (1983)—merangkum semangat perlawanan yang tumbuh sejak dia duduk di bangku SMP. Gie pernah mendebat guru

    Bahasa: Indonesia lantaran berbeda soal pengarang prosa “Pulanglah Dia Si Anak Hilang”. Lalu semasa SMA, dia memprotes kebijakan sekolahnya yang hanya menampung siswa dengan orangtua dari kalangan pejabat. Tabiat itu membentuknya menjadi manusia berjiwa politik. Empati kepada rakyat kecil dan keterampilan beretorika menjadi semangat utama Gie. Dia konsisten untuk berada di luar sistem serta memihak kemanusiaan dan kebebasan. Dalam tulisannya bertanggal 10 Desember 1959, misalnya, Gie geram menyaksikan orang makan kulit mangga saking kelaparan. Sementara, dia menduga, tak sampai 2 kilometer dari situ, Presiden Sukarno sedang tertawa dan makan-makan dengan para istrinya. Gie sangat dikenang berkat tulisan-tulisannya. Aktivis Mapala Universitas Indonesia yang meninggal pada 16 Desember 1969 saat mendaki puncak Semeru ini berprinsip, “Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan.” Kisah tentang Gie adalah jilid perdana seri “Pemuda dan Gerakan Sosial” yang diangkat dari liputan khusus Majalah Berita Mingguan Tempo Oktober 2016. Serial ini mengupas, menyelisik, dan mengisahkan sisi lain kehidupan tokoh-tokoh pemuda yang singkat namun telah mendorong perubahan sosial nyata dan bersejarah.
    Penulis: Redaksi Tempo
    Editor: Galang Putro Aji
    Ilustrator
    Sampul: Bambang Nurdiansyah (CU 2024)
    Penataletak: Setyo Bekti Nugroho (CU 2024)
    Kategori: Nonfiksi, Sejarah, Biografi, Seri Tempo
    Terbit: Desember 2016 (Cetakan pertama), Juli 2017 (Cetakan kedua), April 2018 (Cetakan ketiga), September 2019 (Cetakan keempat), 22 Mei 2024 (Cetakan kelima)
    Harga: Rp75.000
    Tebal: 115 halaman
    Ukuran: 160 mm x 230 mm
    Sampul: Softcover
    ISBN: 9786231341938
    ID KPG: 592402266
    Bahasa: Indonesia
    Usia: 15+
    Penerbit: KPG

  • Seri Tempo: Wiji Thukul, Teka-teki Orang Hilang

    Seri Tempo: Wiji Thukul, Teka-teki Orang Hilang

    Lelaki cadel itu tak pernah bisa melafalkan huruf “r” dengan sempurna. Ia “cacat” wicara tapi dianggap berbahaya. Rambutnya lusuh. Pakaiannya kumal. Celananya seperti tak mengenal sabun dan setrika. Ia bukan burung merak yang mempesona. Namun, bila penyair ini membaca puisi di tengah buruh dan mahasiswa, aparat memberinya cap sebagai agitator, penghasut. Selebaran, poster, stensilan, dan buletin propaganda yang ia bikin tersebar luas di kalangan buruh dan petani. Kegiatannya mendidik anak-anak kampung dianggap menggerakkan kebencian terhadap Orde Baru. Maka ia dibungkam. Dilenyapkan. Wiji Thukul mungkin bukan penyair paling cemerlang yang pernah kita miliki. Sejarah Republik menunjukkan ia juga bukan satu-satunya orang yang menjadi korban penghilangan paksa. Tapi Thukul adalah cerita penting dalam sejarah Orde Baru yang tak patut diabaikan: seorang penyair yang sajak-sajaknya menakutkan sebuah rezim dan kematiannya hingga kini jadi misteri. *** Kisah tentang Wiji Thukul adalah jilid perdana seri “Prahara-prahara Orde Baru”, yang diangkat dari liputan khusus Majalah Berita Mingguan Tempo Mei 2013. Serial ini menyelisik, menyingkap, merekonstruksi, dan mengingat kembali berbagai peristiwa gelap kemanusiaan pada masa Orde Baru yang nyaris terlupakan.

    Penulis: Redaksi Tempo
    Penyunting: Arif Zulkifli, Bagja Hidayat, Dwidjo U. Maksum, Redaksi KPG
    Perancang
    Sampul: Bambang Nurdiansyah (CU 2022)
    Penataletak Isi: Wendie Artswenda & Dadang Kusmana
    Penataletak
    Sampul: Setyo Bekti Nugroho
    Kategori: Nonfiksi, Sejarah, Biografi, Seri Tempo
    Terbit: September 2010 (Cetakan pertama), 2 Maret 2022 (Cetakan ke-9)
    Harga: Rp 75.000
    Tebal: 172 halaman
    Ukuran: 160 mm x 230 mm
    Sampul: Softcover
    ISBN: 9786024817619
    ID KPG: 592201997
    Bahasa: Indonesia
    Usia: 15+
    Penerbit: KPG & Tempo Publishing