Tag: PenerbitKPG

  • DO

    DO

    Masalah adalah anugerah. Masalah adalah peluang. Masalah membuat kita kreatif. Masalah membuat kita belajar. Mencari jalan keluar itu mengasyikkan. Proses mencari solusi itu menyenangkan. Menemukan solusi itu membahagiakan. Kreatif itu panggilan jiwa untuk memberi makna.

    Penulis: Handoko Hendroyono
    Editor: Pax
    Kategori: Nonfiksi, Pengembangan diri
    Terbit: 21 Oktober 2019
    Harga: Rp 65.000
    Tebal: 208 halaman
    Ukuran: 140 mm x 210 mm
    Sampul: Softcover
    ISBN: 9786024812751
    ID KPG: 591901715
    Bahasa: Indonesia
    Usia: 15+
    Penerbit: POP

  • Edo Wallad

    Edo Wallad

    Edo Wallad lahir di Jakarta, 10 November 1977. Bungsu dari empat bersaudara itu awalnya tidak tahu ingin menjadi apa, sampai seorang sahabat menyarankan untuk menulis dan mengirimnya ke sebuah majalah gaya hidup. Sejak itu, menulis jadi bagian dari hidupnya. Banyak hal sudah ia tulis, dari artikel di sejumlah media masa, cerpen, puisi, lirik lagu, naskah cerita, naskah siaran radio, hingga proposal program di NGO. Keterlibatannya dengan puisi sendiri bermula pada 2003, ketika seorang teman mengajaknya bergabung dalam komunitas penyair BungaMatahari yang didirikan @violeteye. Saat itu, penulis berdarah Aceh-Jawa-Sunda ini sudah bekerja di suatu majalah. Ia merasa berlatih menulis puisi bagus untuk mengasah rasa dan kosakata. Edo ingat sajak pertama yang ia buat berjudul “Sepertiga Malam”. Iseng-iseng dia kirim puisi tersebut ke open submission untuk buku antologi puisi yang digelar Akademi Kebudayaan Yogyakarta. “Alhamdullilah, puisi saya diterima.” Ia juga pernah meraih juara satu lomba penulisan puisi jilid dua yang diadakan Oase Pustaka melalui open submission pada 2017. Selain menulis puisi, penggemar Kho Ping Hoo yang dulunya adalah seorang editor di beberapa media ini, kini memutuskan untuk fokus bermusik bareng bandnya The Safari. Selain itu, sejak 2010 Edo giat mengadvokasi penghapusan stigma dan akses kesehatan pada kaum marjinal di Indonesia. Puisi-puisi karya Edo Wallad telah dibukukan dengan judul “Pesta Sebelum Kiamat” yang diterbitkan oleh Comma Books (2018).

  • Who Wants to be A Rational Investor

    Who Wants to be A Rational Investor

    Menurut Jeremy Siegel, pakar keuangan Wharton School, 75 persen pergerakan

    Harga: di bursa saham tidak diketahui penyebabnya. Karena manusia bukan komputer, ada kemungkinan bahwa faktor psikologi, sosial budaya, dan ketidakrasionalan investor ikut berperan menentukan
    Harga: saham. Maka jangan heran jika di dalam buku ini Anda akan menemukan hubungan antara fluktuasi
    Harga: saham dan Christiano Ronaldo, Paul the Octopus, nyamuk Aedes aegypti, Santa Klaus, angka hoki, batu petir bocah Ponari, Friday 13th, bulan terkutuk, lebaran, Sun Tzu, dll. Buku ini berisi kumpulan tulisan yang berfungsi sebagai “jam weker”-sebagai alarm yang mengingatkan dan membangunkan kita dari keterlenaan untuk segera kembali ke kondisi yang rasional menuju pencapaian tujuan investasi kita.
    Penulis: Lukas Setia Atmaja
    Kategori: Nonfiksi, Bisnis, Ekonomi, Manajemen
    Terbit: 16 Juli 2018
    Harga: Rp 75.000
    Tebal: 192 halaman
    Ukuran: 140 mm x 210 mm
    Sampul: Softcover
    ISBN: 9786024249991
    ID KPG: 591801534
    Bahasa: Indonesia
    Usia: 15+
    Penerbit: KPG

  • Who Wants to be A Smiling Investor

    Who Wants to be A Smiling Investor

    Siapa orang di dunia ini yang tidak mau cepat kaya? Ini adalah buku kartun tentang cara-cara berinvestasi saham. Bagaimana memilih saham, cara membeli dan menjualnya, dan risiko investasi semua dibahas di dalamnya. Ditulis oleh guru besar keuangan dari Prasetya Mulya dan digambar oleh kartunis kondang Indonesia, buku ini kocak abis!

    Penulis: Lukas Setia Atmaja
    Editor: Christina M. Udiani
    Kategori: Nonfiksi, Ekonomi, Manajemen, Bisnis
    Ilustrator: Thomdean
    Terbit: 9 September 2019
    Harga: Rp 125.000
    Tebal: 264 halaman
    Ukuran: 170 mm x 240 mm
    Sampul: Softcover
    ISBN: 9786026208965
    ID KPG: 591601239
    Bahasa: Indonesia
    Usia: 15+
    Penerbit: KPG

  • Agung Setiawan S.

    Agung Setiawan S.

    Puisi dan kampus, dua hal yang tak terpisahkan dari seorang Agung Setiawan S, bungsu dari dua bersaudara. Kampus bagi Agung telah menjadi ruang eksplorasi ide-ide gila dalam hidupnya. Melalui puisi, disitulah ia meluapkan segala kegilaan tersebut. Usai menyelesaikan pendidikan sarjana hingga pascasarjana di program studi ilmu filsafat, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, pria berdarah Melayu-Belitong itu memutuskan mengikuti jejak ibunya yang juga adalah seorang pendidik, dengan menjadi seorang dosen. Kini dedikasinya pada dunia pendidikan dilanjutkan di kampung halaman semenjak tahun 2017. Selain produktif menulis puisi, penggemar Jim Morrison dan Kurt Cobain ini memiliki ketertarikan besar pada dunia teater, seni peran, serta dunia film. Semasa berkuliah, ia tergabung dalam kelompok teater Agora, Teater Sastra, dan Pandora. Lebih dari sepuluh pementasan telah Agung lakoni. Terakhir di Taman Ismail Marzuki bersama grup teater Pandora dalam penggarapan pentas berjudul “Pernikahan Darah” adaptasi naskah drama yang telah dibukukan dengan judul sama, karya dramawan Spanyol Federico Garcia Lorca. Lebih dari tujuh produksi film pendek pun telah dijajalnya bersama komunitas film Mondiblanc, tiga diantaranya berhasil masuk skala nasional dan kualifikasi festival internasional. Puisi-puisi karya Agung Setiawan S ini telah dibukukan dengan judul “Menyelamimu” yang diterbitkan oleh Comma Books (2019).

  • Agus Dermawan T.

    Agus Dermawan T.

    Agus Dermawan T lahir di Rogojampi, Jawa Timur, 29 April 1952. Sejak kecil, ia gemar melukis berkat pengaruh ayahnya yang mengagumi karya Basoeki Abdullah dan Soedjono Abdullah. Ayahnya juga menghendaki ia menjadi seniman. Harapan itu terkabul, Agus menekuni betul hobinya. Bahkan dia sudah menerima pesanan melukis sejak SMP dan sewaktu berkuliah di Sekolah Tinggi Seni Rupa “ASRI” Yogyakarta, ia beberapa kali mengadakan pameran. ⁣ ⁣ Pada 1976 setelah ikut serta dalam pameran Biennale di Taman Ismail Marzuki, temannya menyarankan untuk jadi kritikus, karena pelukis sudah menjamur di Indonesia. Usul itu diterima, Agus ganti haluan menjadi pengamat dan kritikus seni rupa.⁣ ⁣ Karier baru dimulai. Sejak itu ia lebih banyak menulis daripada melukis. Buah pengamatannya tentang seniman dan budaya seni rupa di Indonesia bertebaran di media massa. Beberapa telah dibukukan, yakni “Melipat Air”, “Sihir Rumah Ibu”, “Basoeki Abdullah”, “Arie Smit”, “Surga Kemelut Pelukis Hendra Gunawan”, “Monolog Aldy”, dan “Dari Lorong-lorong Istana Presiden”. Di sisi lain, Agus juga rajin membuat catatan perjalanan. Sekali lagi ia menjadi “satu dari sedikit orang yang mengerjakan”. Bukunya “Perjalanan Turis Siluman” adalah satu di antara yang sangat sedikit itu.⁣

  • Building A Ship While Sailing

    Building A Ship While Sailing

    Buku ini mengingatkan kita bahwa sesungguhnya Indonesia memiliki keunggulan wisata budaya yang amat kaya, baik dari sisi keindahan alam maupun keragaman serta keunikan budayanya. Jika semua ini kita kelola dan kembangkan bersama, maka Indonesia akan menjadi magnet wisata dunia. Buku yang enak dibaca dan sangat inspiratif. —Dr. Ir. Arief Yahya, M.Sc. Menteri Pariwisata RI. Sebuah refleksi pemikiran yang kritis, inspiratif, dan konstruktif dari seorang pengusaha dan pencinta budaya tentang masa depan Indonesia. Pak Darmono mengajak pemerintah, kalangan pengusaha, dan akademisi untuk memenuhi janji dann cita kemerdekaan, yaitu mewujudkan kesejahteraan rakyat. Semoga buku ini menginspirasi kalangan pengusaha dan pembuat kebijakan publik. —Dr. Sofyan A. Djalil, S.H., M.A., M.ALD. Menteri Agraria dan Tata Ruang RI. Sebagaimana tercermin dalam buku ini, dalam mengendalikan bisnisnya, Pak Darmono sangat menjunjung tinggi nilai-nilai luhur keagamaan, seperti kejujuran, cinta keluarga, cinta negara, kemanusiaan, dan ujungnya adalah bagaimana turut menyejahterakan rakyat sebagai realisasi syukur pada Tuhan. Sebuah buku yang mesti dibaca oleh para pengusaha Indonesia. —Mochtar Riady. Pengusaha.

    Penulis: S. D. Darmono
    Editor: Candra
    Kategori: Nonfiksi, Manajemen, Ekonomi
    Terbit: 23 April 2018
    Harga: Rp 65.000
    Tebal: 232 halaman
    Ukuran: 150 mm x 230 mm
    Sampul: Softcover
    ISBN: 9786024248529
    ID KPG: 591801509
    Bahasa: Indonesia
    Usia: 13+
    Penerbit: KPG

  • Bringing Civilizations Together

    Bringing Civilizations Together

    Salah satu kekuatan buku S.D Darmono ini terletak pada konsistensinya menempatkan faktor manusia sebagai dimensi utama peradaban yang berpijak pada etika atau keluhuran budi. -Prof. Rhenald Kasali, pakar ekonomi dan bisnis. Buku karyanya ini diramu dari pengalaman dan perenungan yang mendalam. Selain bagus dan perlu, buku ini juga disajikan dengan narasi yang enak untuk dibaca. -Prof. Dr. Moh. Mahfud MD, Menteri Pertahanan 2000-2001, Ketua Mahkamah Konstitusi 2008-2013 Buku ini wajib dibaca bagi siapa saja yang akan memimpin bangsa ini, terutama dalam mengolah tata ruang yang penuh tantangan dan hambatan terkait sumber daya manusia dalam menyongsong era industri 4.0. -Prof. Dr. Budi Susilo Soepandji, Gubernur Lemhannas RI 2011 – 2016.

    Penulis: S. D. Darmono
    Editor: Candra
    Kategori: Nonfiksi, Manajemen, Ekonomi
    Terbit: 20 Mei 2019
    Harga: Rp 75.000
    Tebal: 264 halaman
    Ukuran: 150 mm x 230 mm
    Sampul: Softcover
    ISBN: 9786024811457
    ID KPG: 591901641
    Bahasa: Indonesia
    Usia: 15+
    Penerbit: KPG

  • Putu Setia

    Putu Setia

    Putu Setia tidak pernah menduga dirinya akan menjadi seorang pendeta. Dari keluarga miskin di Bali, Putu Setia melakoni kehidupan yang keras. Ia pernah menyaksikan kelamnya tragedi pasca G30S dan Peristiwa Buleleng, berhenti sekolah karena persoalan biaya, merasakan sulitnya menjadi anak panggung, hingga akhirnya menemukan gairah dalam dunia jurnalistik yang ia tekuni selama lebih dari tiga dekade. Dunia yang mengasah idealisme dan memapankan kehidupannya. Namun bagi Putu Setia, hidup bukan hanya tentang materi, melainkan proses dalam mensyukuri segala hal yang telah semesta beri, bagaimanapun caranya. Menjadi pendeta dan mengabdikan dirinya pada umat merupakan cara yang dipilih oleh Putu Setia untuk mensyukuri kehidupan, selain membayar utang budi terhadap leluhur. Nama Putu Setia pun berganti menjadi Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda dan akrab disapa “Mpu Jaya Prema”. Autobiografi Putu Setia pernah diterbitkan oleh KPG dengan judul “Wartawan Jadi Pendeta”. Dalam waktu dekat, Mpu Jaya Prema akan merilis karya terbarunya: “Lentera Batukaru”, terbit 22 April 2019.

  • Darmawati Majid

    Darmawati Majid

    Darmawati Majid lahir di Bone, kawasan pesisir timur Sulawesi Selatan. Ayah dan kakeknya seorang nelayan, sehingga sulung dari lima bersaudara itu-yang memang sangat dekat dengan keduanya- kerasan berada di laut. Meski begitu, Darma tak pernah ingin jadi nelayan. Ia lebih tertarik menjadi polisi, atau pahlawan yang menyelamatkan dunia, mungkin seperti kesatria baja hitam. Tapi apa bisa perempuan menjadi kesatria baja hitam? Seorang anak bisa menjadi apa pun yang ia mau, tetapi menjadi perempuan langkah bisa terbelenggu. Sering ia bertanya, mengapa di kampung halamannya perempuan tak boleh sekolah? Mengapa seorang istri harus taat dan patuh pada suami, meski suaminya berlaku kasar atau bahkan menikah lagi? Mengapa uang panaik dipatok begitu tinggi, padahal ada semacam aturan yang menuntut perempuan menikah segera setelah mendapatkan haid pertama? Untung bagi Darma, ia bisa mengejar ilmu hingga ke perguruan tinggi. Mengikuti anjuran pamannya, ia mendaftar ke fakultas sastra Inggris Universitas Negeri Makassar pada 2005. Ia kemudian menikah dengan pria yang dapat menjadi sahabat diskusi dalam segala hal, dikaruniai dua anak perempuan dan dua anak laki-laki yang kembar. Meski sudah berumahtangga, suaminya tetap mengizinkan ia berkuliah lagi pada 2011 untuk memperdalam ilmu Linguistik di Universitas Hasanuddin. Kini di sela kesibukannya menjadi seorang istri, ibu, dan profesinya sebagai peneliti bahasa di Kantor Bahasa Gorontalo, Majid mewujudkan mimpi dan mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan masa kecilnya lewat tulisan. Kumpulan cerpen Darmawati Majid bisa Bookmanias nikmati dalam “Ketika Saatnya” terbitan Comma Books dan KPG (2019).