Tag: PenerbitKPG

  • Nugroho B. Sukamdani

    Nugroho B. Sukamdani

    Nugroho B. Sukamdani lahir di Jakarta, 23 Juli 1959. Jenjang pendidikannya meliputi kursus singkat di Engineering Technology, University of California, Los Angeles, AS (lulus 1983); Bachelor in Electrical Engineering, Northeastern University, Boston, AS (lulus 1986); Master of Business Administration, European University, Antwerpen, Belgia (lulus 1990); PGL1 Graduate School of Business, Harvard Business School, Harvard University, Boston, AS (lulus 1997); Doctor of Economics, Takushoku University, Tokyo.

  • Angelina Enny

    Angelina Enny

    Angelina Enny is a writer from Kotabumi, Lampung, who currently lives in Jakarta, Indonesia. Her work, Nokturnal Melankolia (Gramedia Pustaka Utama, 2017), is on the Longlist of Kusala Sastra Khatulistiwa 2018 and has been adapted to a series of monologues: Melakoni Nokturnal Melankolia (Galeri Indonesia Kaya, 2018), and a theatre performance: Melankolia (Teater Salihara, 2018). She is the co-founder of Teater Kedai (Jakarta) and active in theatre as a scriptwriter, actor, director, and producer. Muhammad Yamin-Bahasa Bangsa (Galeri Indonesia Kaya, 2018) is one of her production; it is a performance based on a collection of poems. With Robin Block—Dutch artist, she published a poetry book: In Between, Di Antara (Kepustakaan Populer Gramedia, 2019) for Life and Idea Festival programme, organized by Dutch Culture, Indisch Herinneringscentrum, and Komunitas Salihara, and performed it as: Sebuah Antara, A Passage (Galeri Salihara, 2019); it is a mix performance between text, visual, music, and pencak silat. She was a panelist for Decolonising the Mind with Goenawan Mohamad in Winternachten Festival (The Haag, 2020). Her script idea The Fifteenth Night is on the Longlist of Jakarta Film Fund 2021. On 2022, she with Indah Darmastuti (founder of Difalitera.org) were became writers-in-residence of Inspirational Women for St. Brigid’s Day, organized by the Embassy of Ireland in Indonesia.

  • Pak Presiden Menyanyi: Esai tentang Karya Musik dan Puisi SBY

    Pak Presiden Menyanyi: Esai tentang Karya Musik dan Puisi SBY

    Presiden Pertama RI, BK, menggagas suatu bentuk lagu populer Indonesia dengan semangat peperangan. Presiden Keenam RI, SBY, mewujudkan suatu lagu pop Indonesia dengan semangat perdamaian. Berdasarkan asumsi tersebut, Yapi Tambayong mengkaji karya musik SBY dengan apresiasi semadyanya. Itulah bentuk apresiasi dengan menempatkan keberadaan SBY sebagai pencipta lagu tanpa mengaitkan dirinya sebagai presiden yang berkuasa. Dengan ungkapan lain, SBY di taruh di antara nama-nama pencipta lagu pop pada peta sejarah musik pop Indonesia. Sebagai penyair dan pencetus gerakan Puisi Mbeling, Yapi Tambayong alias Remy Sylado juga mengkaji puisi-puisi SBY sebagaimana terkumpul dalam dua buku puisinya, Taman Kehidupan dan Membasuh Hati—yang masing-masing diberi pengantar oleh K.H. Mustofa Bisri dan Putu Wijaya. Tak kalah menarik, sebagai musikus, Yapi Tambayong memberi kita wawasan cukup luas mengenai sejarah musik pop di Indonesia beserta konsep-konsep di balik lahirnya aliran musik yang telah mendunia tersebut. Bagaimana musik dan lirik lagu-lagu SBY di mata Yapi Tambayong? Adakah puisi SBY yang mesti dinilai sebagai kritik dan memiliki kandungan sanepa? Bagaimana pula komentar para sarjana musik dan sastra kita—seperti Franky Raden, Ben M. Pasaribu, Rahayu Supanggah, Jakob Sumardjo, dan Perry Rumengan—atas kiprah kesenian SBY? Buku ini memaparkannya.

    Penulis: Yapi Tambayong
    Perancang
    Sampul: Rio Tupai
    Penataletak: Dadang Kusuma
    Kategori: Nonfiksi, Esai
    Terbit: Januari 2011
    Harga: Rp
    Tebal: 308 halaman
    Ukuran: 135 mm x 200 mm
    Sampul: Softcover
    ISBN: 9789799103109
    ID KPG: 901110404
    Bahasa: Indonesia
    Usia: 13+
    Penerbit: KPG EBook:
    Gramedia Digital Buku Terkait

  • Secangkir Teh Melati

    Secangkir Teh Melati

    Cerita fiksi ini terinspirasi kisah nyata si Aku, cucu seorang eksil dari Tiongkok yang beranak-pinak di Madja, Banten, dan buyut pemilik penggilingan padi di Indramayu. Dengan latar belakang itu, hidup Aku bisa disebut nyeleneh:

    Penulis: cerpen sejak sekolah menengah umum, bandar gelap judi hwa hwee, dan wartawan harian Indonesia Raya, salah satu surat kabar terkemuka di Indonesia pada zamannya. Si Aku akhirnya juga berhasil menyunting Hr, putri Jawa, setelah keduanya sepakat meleburkan batas-batas sosial etnis dan keyakinan masa itu. Berlatar Djakarta dan Bogor pada 1950-1970an, Secangkir Teh Melati membuat kita bisa melihat lebih dekat dua kota itu dan potret kehidupan suatu keluarga Tionghoa dari kaca mata seorang anak yang gemar keluyuran dan menghindari kata “taat”. Membaca buku ini kita bisa ikut merasakan serunya bermain layang-layang, gundu. karet, atau sekadar menonton pertunjukan mobil promosi, sambil menikmati es krim dan roti terkenal masa itu. Dari suasana antre bioskop-bioskop favorit di Jakarta yang masih penuh kepinding di kursi, toko-toko buku yang dikelola dengan penuh kecintaan pada buku, hingga pemilihan umum pertama tahun 1955 dan ASIAN Games di Jakarta tahun 1962, semua diceritakan dengan lancar lewat tokoh Aku yang akrab bergaul dengan Soe Hok-gie dan Kawan-kawan Roxy-nya, dengan menteri, dan para tokoh pers seniman Balai Budaya, Jakarta. “ Mantan wartawan yang terlatih menggunakan
    Bahasa: , buku Bunjamin Wibisono ini bercerita lancar, mudah dibaca dan kisah yang diceritakannya menarik. tentang lingkungan sosial yang membesarkan dan dilewati dan diamatinya dalam perjalanan hidupnya.” —Salim Haji Said, Guru Besar Universitas Pertahanan Indonesia “Dari yang sempat saya baca, paparan dalam buku ini menarik dan baik dipahami oleh generasi yang tidak mengalami sehingga (dapat) memiliki wawasan yang mendalam tentang kehidupan bangsa kita dalam bermacam-macam situasi sosial, ekonomi, dan politik.” —Atmakusumah Astraatmadja, pengajar jurnalistik Lembaga Pers Dr. Soetomo (LPDS), ketua Dewan Pers (2000-2003), penerima Magsaysay Award tahun 2000 untuk Jurnalisme, Sastra, dan Seni Komunikasi Kreatif
    Penulis: Bunjamin Wibisono
    Editor: Christina M. Udiani
    Perancang
    Sampul: Leopold Adi Surya
    Penataletak: Wendie Artswenda
    Kategori: Fiksi, Sastra
    Terbit: 23 April 2018
    Harga: Rp 70.000
    Tebal: 232 halaman
    Ukuran: 135 mm x 200 mm
    Sampul: Softcover
    ISBN: 9786024248468
    ISBN: Digital: 9786024248475
    ID KPG: 591801510
    Bahasa: Indonesia
    Usia: 15+
    Penerbit: KPG

  • Andrew N. Weintrub

    Andrew N. Weintrub

    Andrew N. Weintraub adalah profesor musik dan direktur program gamelan di University of Pittsburgh. Ia menulis Power Plays: Wayang Golek Puppet Theater of West Java dan co-editor Music and Cultural Rights, Weintraub juga pendiri dan vokalis utama Dangdut Cowboys, orkes dangdut dari Pittsburgh yang videonya di YouTube telah ditonton sebanyak lebih dari 250.000 kali sejak Desember 2007.

  • Bukannya Aku Nggak Mau Menikah

    Bukannya Aku Nggak Mau Menikah

    Pernah mendengar nasihat serupa karena kamu perempuan di atas dua puluh lima tahun dengan kehidupan yang baik-baik saja menurut standar kamu… tapi belum menikah? Sepertinya buku yang sedang kamu pegang ini adalah pilihan yang tepat buatmu. Bukannya Aku Nggak Mau Menikah adalah kumpulan kisah keseharian

    Penulis: nya, Lee Joo Yoon. Mulai dari desakan orangtua agar dia segera menikah, teori cocoklogi tentang kenapa para kerabat jauh hobi bertanya “kapan nikah”, sampai penjelasan agak ilmiah tentang kenapa temperamen seseorang sering dikaitkan dengan status belum menikah, semua ditulis Joo Yoon dengan gaya ugal-ugalan. Kata-katanya yang lugas dan apa adanya mungkin terdengar blak-blakan dan terasa seperti tamparan keras atau sindiran sinis, tapi bisa jadi malah membuat kita serasa bercermin atau bahkan bak mendapat puk-puk hangat di pundak. Lee Joo yoon adalah
    Penulis: sekaligus ilustrator buku anak dan dewasa. Cita-citanya dulu ingin berkuliah jurusan Sastra, tapi dia gagal lulus ujian masuk. Joo yoon kemudian mempelajari naskah drama, esai, skrip fi lm serta membaca segala jenis buku panduan menulis dan kemudian menulis dengan caranya sendiri, tapi sampai saat ini kemampuannya belum pernah diganjar penghargaan tulismenulis sama sekali. namun demikian, mimpi terbesar dalam hidupnya adalah membuat tulisan yang mudah dibaca dan semoga buku ini adalah salah satu jalan menuju kesana.
    Penulis: Lee Joo Yoon
    Editor: Anida Nurrahmi
    Penerjemah: Riana Halim
    Penataletak
    Sampul: & Isi: Teguh Tri Erdyan
    Kategori: Nonfiksi, Self-Improvement
    Terbit: 17 November 2021
    Harga: Rp 90.000
    Tebal: 272 halaman
    Ukuran: 130 mm x 210 mm
    Sampul: Softcover
    ISBN: 9786024816797
    ID KPG: 592101960
    Usia: 15+
    Bahasa: Indonesia
    Penerbit: POP

  • Erica Hestu Wahyuni

    Erica Hestu Wahyuni

    Pernah menempuh pendidikan dari Institut Seni Rupa Indonesia di Yogyakarta dan Institut Seni Surikov, Rusia, Erica Hestu Wahyuni—biasa disapa Erica—menjadi salah satu seniman perempuan terkemuka dari Indonesia. Lahir di Yogyakarta pada tahun 1971, Erica mulai melukis di sekolah dasar, bergabung dengan klub menggambar anak-anak, Sanggar Katamsi. Di usianya yang masih sangat muda, ia telah memenangkan delapan belas kompetisi seni tingkat lokal dan nasional. Oleh karena itu wajar baginya untuk mengembangkan gayanya sendiri, suatu ekspresi dirinya yang bersahaja dan mencerminkan pengalaman serta minatnya. Seninya mungkin kekanak-kanakan, tetapi tentu saja tidak sederhana.

  • Rubik Unik Corona

    Rubik Unik Corona

    Ardi datang mengembalikan mainan rubik Tania. Namun, dia tidak boleh masuk. Tania juga belum boleh main ke luar rumah. Kenapa ya? Apa yang kemudian dilakukan Tania bersama Kak Tora? Rubik Unik Corona adalah buku perdana dari Seri Buku Cerita Anak SIGAP. SIGAP (Siapkan Generasi Anak Berprestasi) adalah program pengembangan dan pendidikan anak

    Usia: dini dari Tanoto Foundation, yang bertujuan untuk mendukung anak-anak
    Usia: dini tumbuh dan berkembang secara optimal sesuai dengan
    Usia: nya, dan menjadi siap belajar untuk jenjang pendidikan berikutnya. SIGAP berkeinginan untuk menghadirkan buku-buku cerita yang berkualitas bagi anak-anak untuk memberikan stimulasi bagi perkembangan mereka dan menanamkan kecintaan membaca sejak dini.
    Penulis: Benny Rhamdani
    Editor: Pradikha Bestari
    Editor: Tamu: Eva Y. Nukman & dr. Rifan Fauzie, Sp. A (K)
    Ilustrator: Mantox Studio
    Kategori: Fiksi, Anak
    Terbit: 3 November 2021
    Harga: Rp 30.000
    Tebal: 30 halaman
    Ukuran: 210 mm x 297 mm
    Sampul: Softcover
    ISBN: 9786024816728
    ISBN: Digital: 9786024816735
    ID KPG: 592101958
    Usia: 4+
    Bahasa: Indonesia
    Penerbit: Kiddo

  • Ni Made Purnama Sari

    Ni Made Purnama Sari

    Lahir di Bali, 22 Maret 1989. Ia lulus dari jurusan Antopologi Universitas Udayana kemudian melanjutkan program Magister Manajemen Pembangunan Sosial di FISIP Universitas Indonesia. Buku puisi pertamanya, Bali–Borneo, meraih Buku Puisi Pilihan Anugerah Hari Puisi Indonesia 2014 dari Yayasan Sagang dan Indopos. Naskah manuskripnya meraih Juara II Sayembara Manuskrip Buku Puisi DKJ 2015, terbit dengan judul Kawitan (Gramedia Pustaka Utama, 2016), dan pada tahun yang sama buku ini terpilih juga sebagai Lima Besar Anugerah Kusala Sastra Khatulistiwa. Sebuah novelnya berjudul Kalamata, diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) pada Oktober 2016. Buku terbarunya akan segera terbit bersama Penerbit KPG dengan judul Yang Menari dalam Bayangan Inang Mati.

  • Ghyna Amanda Putri

    Ghyna Amanda Putri

    Ghyna Amanda Putri, mengaku USA alias Urang Sunda Aseli. Lulusan dari program Pendidikan Bahasa Jepang UPI yang malah lebih ingin menjadi guru TK. Hobi menulisnya sendiri merupakan pelarian karena gagal menjadi komikus, dan diawali sejak bergabung dengan forum roleplay berbasis teks. Saat ini bekerja sebagai copywriter di sebuah perusahaan finansial yang hobi membuat narasi antarhubungan mata uang. Penyuka panda akut ini sehari-harinya bergentayangan melalui akun Twitter: @amndbrnz dan Facebook: Ghyna Amanda Putri. Salah satu bukunya telah diterbitkan bersama Penerbit Icecube dari Seri YARN dengan judul Seri YARN: Hikikomori-chan.